Nilai Sebuah Keunikan
Penulis: Akhmad Supriyatna
Setiap individu terlahir unik. Pendidikan mengembangkan keunikan tersebut sebagai keunggulan anak untuk mampu menyelesaikan persoalan kehidupannya.
Nampak raut wajah bingung terlihat di wajah seorang guru muda ketika mewawancarai seorang anak laki-laki yang datang mendaftar. Pak guru yang kami tugasi untuk mewawancarai calon murid baru itu, mengaku kesulitan berkomunikasi dengan si anak. Selain bicaranya yang tidak jelas, menurut dia, jawaban atas pertanyaan juga tidak sesuai dengan apa yang ditanyakan. Dalam bahasa sekarang, komunikasinya tulalit alias tidak nyambung. Wajah anak nampak bengong, sayu dan seperti tanpa semangat. Persis sosok Harun dalam Laskar Pelangi.
“Bagaimana kita harus menerima siswa seperti ini pak? Apakah ia tidak kesulitan dalam belajar? Atau malah jadi olok-olok kawan-kawannya”? Begitu alasan yang disampaikan panitia penerimaan siswa baru terhadap anak tersebut. Maksudnya, lebih baik tidak usah diterima, daripada kita kesulitan untuk membelajarkannya di masa datang.
Saya mengerti mengapa ibu bapak guru berpendirian seperti itu. Nampaknya, si anak memang berbeda dibanding kawan-kawannya. Sehingga kehadirannya dianggap akan mengganggu kegiatan pembelajaran bagi yang kawan-kawannya yang dianggap “normal”.
Ketika saya ceritakan tentang anak ini kepada kawan saya yang psikolog, menurut dia, kalau melihat indikasinya, ada kemungkinan anak itu tergolong tuna grahita ringan. Pendidikan anak seperti ini biasanya dilayani secara khusus di sekolah luar biasa.
Tentu untuk melayani anak semacam ini perlu guru-guru khusus dengan keahlian khusus pula. Sementara sekolah kami adalah sekolah umum, di mana guru-gurunya tidak memiliki spesialisasi dalam mendidik anak-anak yang memerlukan layanan khusus semacam ini.
Tapi yang menjadi pikiran adalah apakah benar anak ini harus ditolak?
Pertanyaan itu sangat mengganggu pikiran saya. Kalau berkaca pada kemampuan kami dalam melayani anak unik tersebut, jelas kami belum pernah melakukan. Belum teruji. Tapi apakah itu cukup alasan untuk menolak kedatangannya kepada kami. Lagi pula, kedatangan anak ini pada kami, tentu tidak datang begitu saja. Pasti atas skenario Tuhan. Apa sebenarnya rencana Tuhan dengan mengirim anak ini pada kami? Ini yang harus disadari.
Kalau dipikir lebih jauh, Tuhan pasti mengutus anak unik itu ke dunia dengan maksud tertentu. Tidak mungkin ia lahir tanpa kelebihan. Karena setiap manusia diberi bekal untuk hidupnya, tanpa kecuali. Adalah tugas sekolah untuk menemukan kelebihannya itu, dan mengembangkannya, sebagai bekal hidupnya. Ini pasti sangat menantang.
Dan kalau dipikir-pikir, kapan lagi kami punya pengalaman menangani anak semacam ini kalau tidak sekarang. Soal kemampuan, tentu tidak akan terasah kalau tidak dicoba. Begitulah perdebatan dalam benak saya. Saya melihat ini adalah kesempatan besar yang berikan Tuhan. Maka, jangan disia-siakan.
Tapi bagaimana meyakinkan ibu bapak guru menge- nai hal ini? Saya agak khawatir.
Dan benar saja. Ketika saya sampaikan kepada ibu bapak guru bahwa kita harus menerimanya, sederet pertanyaan lain pun bermunculan. Bagaimana memberikan layanan di kelas, karena untuk dia pasti berbeda? Bagaimana memberikan nilainya? Bagaimana bentuk tugasnya? Bagaimana ujiannya? Bagaimana kalau dia diolok-olok? Dan sederet pertanyaan lainnya.
“Kita akan menemukan semua jawabannya, ketika kita melayaninya. Kalau kita tidak melayaninya sampai kapanpun kita tidak akan menemukan jawabannya.” Begitu penegasan saya pada kawan-kawan ibu bapak guru.
Sebut saja namanya Idut. Badannya kecil, rambut lurus. Bicaranya memang tidak jelas. Kalau ditanya menjawab seadanya dan kadang agak ngawur. Itupun dengan suara yang samar. Banyak yang tidak menyangka ia bisa diterima di sekolah. Tapi tekadnya yang kuat, membawanya hingga lulus SMP dan kini siap menempuh pendidikan SMA. “Dia selalu memaksa untuk pergi sekolah,” cerita ibunya. Jadilah Idut murid unik kami yang pertama.
Segera saya kunjungi kelas Idut. Situasinya biasa saja. Tidak saya temukan olok-olok atau ledekan menyakitkan. “Ini modal bagus”, pikir saya. Beberapa orang teman sekelasnya saya ajak bicara, semuanya mengenal Idut dengan baik dan memahami kekurangannya.
Secara diam-diam saya membuat kesepakatan-kesepakatan dengan kawan-kawannya. Pertama, mereka memahami kekurangan Idut dan meyakini bahwa Idutpun punya kelebihan lain. Tuhan menunjukkan secara jelas apa kelemahan Idut, tinggal kita cari tahu apa kelebihan dia. Kedua, nilai tujuh Idut tentu berbeda dengan nilai tujuh kawan lainnya. Dan kawannya bisa memahami. Ketiga, dan ini yang paling penting, mereka siap mendukung Idut untuk dapat hidup mandiri dan sebagai bagian dari mereka untuk tidak saling menyakiti. Hal inilah menurut saya yang menjadi intinya pendidikan. Kalau teman-teman memberikan support, itu akan berdampak baik pada kehidupan Idut. Jangan-jangan Tuhan mengirim Idut untuk melatih nurani orang-orang yang merasa dirinya “normal”.
Setelah cukup banyak teman-temannya yang saya ajak bicara, akhirnya kami kumpulkan semua anak di kelas, tanpa Idut, untuk menyamakan persepsi. Dan semuanya memahami. Saya pikir yang paling penting adalah bagaimana Idut tidak merasa asing di tengah lingkungannya. Punya percaya diri, berani, dan menunjukkan segenap keunggulannya. Soal kekurangannya, tidak begitu menjadi persoalan.
Satu semester pembelajaran berjalan lancar. Tidak ada keluhan dari guru atau teman-temannya. Justru kami melihat satu keunggulan yang nampak dalam dirinya. Rajinnya luar biasa. Dalam satu semester, saya tidak menemukan satu hari pun Idut alpa, terlambat, atau bolos. Dan alhamdulillah, selama ini ia sehat. Laporan Ibu Bapak guru juga cukup positif. Ketika pindah ruang setiap ganti pelajaran, ia selalu tepat waktu. Ke- simpulan kami, dalam hal kedisiplinan, ia layak mendapat nilai A.
Meski di kelas kelihatan dia hanya melongo saja, tapi semua aturan sekolah ia ikuti. Nilai akademiknya juga tidak selalu paling bawah. Kerap kali masuk kisaran kurva normal. Selain sulit dalam berkomunikasi, dan penampilannya yang berbeda dibandingkan teman- temannya, tidak ada hal lain yang mengecewakan.
Jadi, tidak ada alasan bagi kami untuk memberi perlakuan berbeda. Hanya saja dalam menilai, memang kami memberi kekhususan. Nilai Idut diberi standar berbeda. Angka enam yang ia peroleh mungkin lima bagi yang lain. Tapi, semua kawannya sudah maklum. Bahkan, ketika nilai Idut mendapat tujuh, teman-temannya bertepuk tangan memberi semangat. Sekali-sekali dalam ulangan harian, nilai ulangan essay Idut mendapat tertinggi. Semua teman menunjukkan wajah gembira. Dan nampak kepercayaan diri Idut ma- kin kuat.
Kehadiran Idut menyadarkan kami bahwa setiap orang itu unik. Tidak ada yang sama. Bahkan anak-anak yang sepintas nampak normal pun, masing-masing memiliki perbedaan. Pada hakekatnya tidak ada anak yang dapat dilayani sama. Semua berbeda. Kebersamaan mereka dalam satu kelas, bukan untuk menyamakan layanan. Melainkan untuk saling membelajarkan. Anak-anak yang merasa dirinya “normal” harus mengolah rasa lebih dalam ketika berkawan dengan ciptaan Allah yang nampak sekali kekurangannya.
Kami, para guru juga mulai menyadari bahwa, keberhasilan pendidikan harus dilihat dari perkembangan yang dialami setiap individu. Anak yang tidak tahu menjadi tahu, tidak bisa menjadi bisa, dan tidak terbiasa menjadi terbiasa. Perkembangan dari tidak bisa menjadi bisa adalah hasil proses pendidikan. Jadi bukan prestasi seorang anak dibandingkan dengan kawan-kawannya. Oleh karena itu, nilai juga harus mencerminkan perkembangan kompetensi tersebut. Bukan membandingkan nilai antara anak yang belum tahu dengan anak yang sudah tahu.
Idut telah banyak membawa perubahan pada kami tentang makna penting pendidikan. Kehadirannya menyadarkan bahwa setiap anak adalah unik dan pa- da dasarnya mereka punya keunggulan yang tak tertandingi. Meski secara akademik nilai-nilai Idut tidak tinggi, tapi kami yakin dengan kedisiplinannya yang tinggi, dan kerajinannya yang tiada banding, akan membuat dia bisa mengarungi kehidupan di dunia nyata yang lebih baik.
